|

Usai Dimandikan dan Disalatkan, Wajah Ita Kembali Muda

itaasahan ( berita Ita )
KISARAN-METRO; Usai di mandikan dan di salatkan, kerutan di wajah Ita Susilawati (19) warga Kampung Sido Keno, Dusun IX Desa Suka Damai Barat, Kecamatan Pulau Bandring, Asahan yang membuat wajahnya menjadi seakan berusia 70 tahunan menghilang. Wajah Ita secara ajaib dan bertahap kembali muda.

Setelah selesai disalatkan, jenazah Ita dimakamkan di pekuburan umum Desa Suka Damai, Senin (1/3) sekira pukul 11.30 WIB, setelah melalui prosesi fardhu kifayah.

Sebagaiman lazimnya dalam ajaran agama Islam, jenazah Ita Susilawati terlebih dulu dimandikan, setelah itu dikafani lalu disalatkan kemudian dimakamkan. Masih pada sesi pertama yaitu usai mandi jenazah, tiba-tiba wajah kembang desa ini sempat mengundang perhatian ratusan para pelayat yang datang melayat.

Betapa tidak, secara perlahan wajah Ita menunjukan perubahan secara perlahan. Dan terakhir sebelum disalatkan, wajahnya tampak berusia 25 tahunan, bukan seperti berusia 70 tahunan saat Ita menderita penyakit aneh.

Kerutan di kelopak dan alis matanya yang jatuh hampir menutup separuh wajahnya hilang secara perlahan. Wajah buah hati pasangan Dur Rahman (50) dan Ramlia (43) secara perlahan kembali seperti saat Ita belum didera penyakit anehnya.

“Kelopak dan alis matanya yang menutup sebagian wajah Ita sudah kempes dan guratan kecantikannya mulai nampak. Bahkan senyum di bibirnya tersungging manis. Mungkin dirinya bahagia menghadap Ilahi Robbi sebagai ganti derita karena didera penyakit aneh selama dua tahun lebih,” ujar Halimah, seorang pelayat yang mengaku sangat prihatin terhadap derita yang mendera Ita selama ini dan diamini puluhan warga lainnya yang ikut menyaksikan keanehan tersebut.

Dikatakan wanita yang ikut menggagas ‘Seribu Cinta untuk Ita’ ini, bahwa kelopak dan alis mata yang bengkak itu sudah mulai terlihat setelah beberapa saat jenazahnya disemayamkan di rumah duka. Tapi kempes total setelah jenazah istri Hendra Efendi ini usai dimandikan.

Apa yang disebut wanita yang juga aktivis dan bernaung dalam sebuah organisasi wanita di Asahan, benar adanya. Hal itu sempat disaksikan METRO, saat kain kafan yang menutup wajahnya diminta dibuka untuk kepentingan pemotretan untuk publikasi ke surat kabar.

Tapi yang pasti, sesuai amatan wartawan koran ini, kelopak dan alis mata yang hampir menutup matanya selama dua tahun terakhir tampak kempes dan keriput di wajah yang membuatnya seperti nenek-nenek umur tujuh puluh tahunan terlihat hilang.

Ratusan Pelayat Lepas Kepergian Ita

Ratusan pelayat yang terdiri dari kaum bapak, ibu, dan remaja ikut melepas kepergian almarhumah Ita. Mereka tampak larut dalam kesedihan saat jenazah di dalam keranda yang diletakkan di bawah tenda biru yang berada di halaman samping rumah itu, sesaat sebelum jenazah akan diberangkatkan kepemakamannya di pekuburan umum di desa itu.

Sedang ibu kandung almarhumah Ita, Ramlia Boru Siregar tidak henti-hentinya menangis karena merasa kehilangan atas kepergian anaknya menghadap Sang Pencipta.

Karsini (75) yang mengaku nenek almarhumah kepada METRO mengutarakan, sudah dua tahun cucunya menderita sakit. Sekarang cucunya menghadap Allah SWT.

“Saya sudah pasrah karena saya kasihan melihat sakit yang dideritanya.

Padahal telah diobatkan ke dokter umum dan spesialis setelah penyakit tersebut menghinggapinya dan dalam beberapa hari belakangan ini kembali berobat ke rumah sakit. Kalau dukun sudah ratusan yang menanganinya, tapi semuanya itu bentuk usaha dari manusia, tapi Yang Maha Kuasa memberlakukan takdir-NYa. Putuku (cucuku-red) telah pergi menghadap pencipta dan semoga Allah menerima arwahnya,” harapnya.

Kemudian perbincangan dengan nenek ini berhenti karena jenazah Ita dibawa ke masjid di desa itu sekira pukul 11.00 WIB untuk disalatkan dan selanjutnya dimakamkan.

Sedang Kepala Desa Suka Damai Barat, Maria Monarita Boru Damanik yang diminta tengapannya seputar kepergian almarhumah, mengatakan turut berduka cita atas meninggalnya Ita Susilawati. Dirinya berharap agar keluarga yang ditinggal tabah dalam menghadapinya.

Keluarga Minta Hendra Dituntut Secara Hukum

Ita Susilawati, warga Kampung Sido Keno Desa Suka Damai Barat Kecamatan Pula Bandring, Asahan telah menghembuskan napas terakhir, Mingu (28/2) sekira pukul 15.40 WIB di RSU HAMS Kisaran.

Kepergian mantan kembang desa itu sangat memukul pihak keluarga. Keluarga dari almarhumah minta kasus hukum yang menyangkut dengannya yakni masalah pernikahan suaminya Hendra dengan wanita lain setelah Ita menderita penyakit aneh.

Proses hukum yang telah dikuasakan almarhumah kepada LBH Medan (Pos Asahan-Tanjung Balai) terkait dengan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan oleh suaminya, Hendra Effendi, pihak LBH ini menyatakan, masih akan mempelajarinya kembali, apakah kasus itu masih bisa diusut atau tidak, karena Ita sudah lebih dulu meninggal dunia, sebelum kasusnya diproses.

Koordinator LBH Medan (Pos Asahan-Tanjung Balai) Imam Syahtria menyatakan, somasi terhadap Hendra memang belum sempat dikirim dan masih dalam proses. Diakuinya keterlambatan pengiriman somasi tersebut karena pihaknya tersita dalam mengurusi soal pelayanan medis terhadap Ita dan mempelopori kegiatan Gerakan Seribu Cinta Untuk Ita (Gebu Cinta Untuk Ita) bersama PWI Reformasi Asahan dan KIPAS.

“Kita akan pelajari lagi dulu apakah kasus ini dapat dilanjutkan atau tidak,” ungkap dia.

Namun dia menegaskan, terkait dengan kasus hukum ini, pihak keluarga telah mengamanahkan kepada LBH Medan (Pos Asahan-Tanjung Balai) untuk terus menindaklanjuti kasus KDRT ini. Bahkan kasus juga berkembang dari kasus KDRT menjadi kasus penipuan, yang diduga dilakukan suaminya. Hanya saja soal penipuan tersebut belum dirinci pihak LBH.

Usai pemakaman, pihak keluarga Ita kepada staf Divisi Perempuan, Indah Maharani Sitorus dari LBH Medan, Pos Asahan-Tnjung Balai-Batu Bara meminta untuk menindaklanjuti kasus itu walau Ita telah tiada.

“Kita siap untuk terus melanjutkan proses hukum ini. Namun kami akan pelajari lagi dulu apakah kasus ini dapat dilanjutkan atau tidak,” ungkap Maharani.

Sebagaimana disebut-sebut, bahwa suaminya hanya sekali saja bertemu dengan kembang desa ini setelah dipersuntingnya. Bahkan Ita sendiri semasa hidup kepada METRO mengatakan, suaminya telah meninggalkan desanya setelah 3 bulan mereka menikah menuju Binjai, tempat tinggalnya semula. Setelah 3 bulan di perantauan, atau setelah umur pernikahan 6 bulan, suaminya kembali datang ke desanya, dan ketika itu Ita sudah sakit. Setelah itu Hendra tidak datang kembali hingga akhirnya Ita meninggal dunia. (van)

sumber : metrosiantar.com

If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Short URL: http://asahannews.com/?p=1764

Posted by on Mar 3 2010. Filed under ASAHAN, DAERAH, KISARAN. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

bisnis online Informasi Kesehatan Lainnya : Agung Farma
120x600 ad code [Inner pages]

seputar_islam

Recently Commented

  • alfata: Kami menyediakan bibit gaharu jenis A. Malacecis dengan harga Rp.500 /btgm.hub 087790724999
  • Obat Tradisional Maag: terimaksih informasinya,. banyaknya penderita penyakit hepatitis tetapi penanganan sejak dini...
  • misna: cemana menurut ente,masak orang kerja di takuti di buat jadi down………̷ 0;
  • misna: copot jabatan kasat pol-pp jugalah,yang menghubar habirkan pol-pp asahan
  • Anna Wijayanti: .maaf sebelumnya, apakah yang bisa menjadi jurnalis hanya orang – orang yang lulus S1 sedangkan...