February 3rd, 2010
Tabung Elpiji 3 Kg Tak Aman
asahan ( berita Tanjung Balai )
Tiga Kasus Kebakaran Terjadi Akibat Ledakan Tabung
TANJUNGBALAI-METRO; Kebijakan pemerintah mencabut subsidi minyak tanah ke elpiji dinilai beberapa kalangan masyarakat sebagai suatu program yang sangat membahayakan kepada warga miskin. Alasannya, warga yang belum terbiasa menggunakan gas elpiji bisa saja melakukan kesalahan dan hal itu mengakibatkan terjadinya bencana kebakaran.
Beberapa peristiwa kebakaran yang terjadi di Tanjungbalai akibat tabung elpiji yang merupakan pemberian dari pemerintah meledak. Terhitung dalam satu bulan terakhir ada 3 kasus kebakaran yang memusnahkan rumah warga akibat ledakan tabung gas.
Wati (22) warga Kelurahan Gading, Kecamatan Datuk Bandar, Senin (1/2) mangaku bahwa tabung gas yang dimilikinya dari hasil jatah pembagian pemerintah ternyata tidak aman. Tabung gas yang dimilikinya bocor dan mengeluarkan bau gas yang sangat menyengat.
Untung saja saat itu kompor gas yang diberikan oleh pemerintah melalui program konversi minyak tanah ke gas kepadanya saat itu tidak hidup.
“Tabung gas saya bocor, beruntung kompornya sedang tidak hidup. Sejak kejadian itu saya enggak mau lagi pakai elpiji,” ujarnya.
Hal senada juga dikatakan Elina (47) warga Sijambi Kecamatan Datuk Bandar Tanjungbalai, Senin (1/2). Menurut Elina, akibat program konversi minyak tanah ke gas rumahnya jadi terbakar. Pasalnya tabung gas yang diterimanya mengalami kebocoran.
Sedangkan di kampunya, beberapa bulan lalu juga terjadi peristiwa kebakaran akibat kompor gas yang diterima tetangganya meledak.
Menanggapi hal ini Sekretaris FOKAD (Forum Komunkasi Anak Daerah) R Nasution mengatakan, dengan dicabutnya subsidi minyak tanah ke elpiji semakin menambah penderitaan masyarakat. “Menurut saya, tabung gas itu tidak aman, pada waktu pembagian yang dilakukan konsultan mereka tidak pernah melakukan uji coba keamanan tabung gas itu di depan masyarakat,” ucapnya.
Sementara berdasarkan penelusuran yang dilakukan Lingkar Study Aksi Demokrasi Indonesia (LS-ADI) di beberapa kecamatan di Asahan, hingga saat ini warga masih kesulitan untuk memeroleh minyak tanah. Padahal jumlah pasokan minyak tanah ke Asahan belum ada dikurangi. Karena pengurangan pasokan baru dimulai setelah memasuki awal Pebruari.
Di Kecamatan Air Batu, warga terpaksa antri berjam-jam untuk mendapatkan minyak tanah. Hal itu tidak lain karena pangkalan yang ada tidak lagi semuanya mendapat jatah minah. Kondisi itu membuat pangkalan yang dapat jatah justru diserbu warga.
Aditia Prahmana, koordinator LS–ADI Asahan kepada METRO, di Kisaran mengutarakan, pihaknya telah menemuk an di beberapa desa, di mana warga merasa kesulitan untuk mendapatkan minyak tanah.
“Ini suatu keperihatinan terkait dengan soal minyak tanah. Seyogianya, minyak tanah harus lebih mudah didapatkan. Ini mengingat sebagian dari warga sudah beralih ke elpiji. Tapi anehnya kenapa minyak tanah masih sulit ditemukan. Padahal jumlah jatah yang didistribusikan ke Asahan belum mengalami penurunan. Karena penurunannya baru mulai dilakukan sejak awal Pebruari 2010,” ucapnya.
Rudy salah seorang warga di Kecamatan Air Batu mengatakan, di Desa Penangiripan tempatnya tinggal, minyak tanah sulit diperoleh. Padahal pemakai minyak tanah sudah berkurang karena sudah banyak yang pakai gas.
“Tapi kok minyak tanah makin sulit didapatkan dan pangkalan banyak yang tidak dapat jatah. Ini sesuatu yang aneh dan ini merupakan pertanda ada dugaan bahwa terjadi penimbunan atau mengalihkan minyak tanah tersebut,” ucapnya. (fik)
sumber : metrosiantar.com
