Seputar Pemecatan Ketua Golkar Asahan
Asahan ( berita Pilkada 2010 )
Risuddin Diisukan Stroke
Humas: Beliau Kurang Sehat & Sedang Istirahat di Medan
KISARAN-METRO; Pemecatan paket Risuddin-Djalaluddin sebagai Ketua dan Sekretaris DPD II Partai Golkar Asahan, berbuntut. Beredar isu kondisi kesehatan Bupati Asahan, Risuddin, langsung ngedrop begitu mendengar kabar pemecatan dirinya. Malah, Risuddin sempat diisukan terpaksa dilarikan ke Singapura, karena terkena stroke.
‘’Bupati kena stroke. Itu kabar yang saya dapat. Malah pagi tadi katanya bupati terpaksa diterbangkan ke luar negeri,’’ kata sumber koran ini, yang enggan namanya di korankan, Selasa (29/3).
Namun isu itu buru-buru dibantah Kepala Bagian Humas Pemkab Asahan, Rahmat Hidayat Siregar SSos MSi. Kepada koran ini, Rahmat mengatakan bahwa kondisi Bupati Asahan tak segempar isu yang beredar. ‘’Beliau (Bupati, red) kurang sehat. Sekarang lagi beristirahat di rumah di Medan,’’ kata Dayat.
Dia menegaskan, jika Bupati menderita stroke parah, tak mungkin Helmiati, istri Risuddin, melakukan kegiatan sosialisasi ke sejumlah tempat. ‘’Kalau memang betul bapak (Risuddin) sakit parah, pastinya ibu Helmiati terus mendampingi beliau. Ini kan tidak,’’katanya.
Sementara itu sekretaris Golkar yang juga dipecat bersama Risuddin yakni Djalaluddin, ternyata tak tinggal diam kalau dirinya dipecat secara sepihak. Dia berencana melakukan pembelaan diri terhadap putusan Ketua DPD I Partai Golkar Sumut Syamsul Arifin. Karena menurut dia, keputusan DPD I Golkar bernomor 44/GK-SU/III/2010 itu merupakan wujud dari tindakan semena-mena Golkar terhadap Risuddin dan Djalaluddin. Selanjutnya nahkoda Golkar Asahan dikomandoi Benteng Panjaitan dan Efi Irwansyah Pane.
Dia juga menilai pemecatan itu dilakukan secara sepihak. ‘’Golkar berlaku semena-mena, karena memecat Risuddin dan saya tanpa alasan yang jelas. Masak hanya karena mosi tak percaya PK (pimpinan kecamatan) yang dilayangkan ke DPD I Golkar. Harusnya, kami dimintai penjelasan mengenai (mosi tak percaya) itu, tapi ini tidak pernah sama sekali,’’ kata Djalaluddin, Selasa (29/3) di kediamannya.
Dia juga mempersoalkan surat pemecatan tertanggal 27 Maret itu tidak menjelaskan alasan pelanggaran apa yang telah dia dan Risuddin lakukan. Hal itu dinilainya bertentangan dengan ketentuan pasal 4 ayat (2) anggaran rumah tangga dan pasal 4 poin C, D, E, F dan G peraturan organisasi.
Selain itu, Djalaluddin menilai, bahwa tindakan Golkar tersebut sangat tendesius dan tidak mengindahkan peraturan organisasi, sesuai pasal 11 dan pasal 12, pasal (1) serta pasal 9 ayat (1), kecuali hanya berdasarkan alasan mosi tidak percaya dari para PK Golkar. Sialnya, tambah Djalal, mosi tak percaya itu tidak dikroscek lebih dulu kepada pengurus kabupaten, fraksi PG DPRD Asahan maupun pengurus kecamatan setempat. ‘’ Saya dan Pak Risuddin dipecat karena diisukan tak mengikuti petunjuk partai untuk mendukung pasangan calon bupati dan wakil Taufan-Surya. Selain itu, pemecatan dikaitkan dengan statemen Pak Risuddin yang akan memajukan partai lain, bukan Golkar. Tapi apakah benar isu itu tak pernah dimintai penjelasan ke kami. Ini kan jelas sebuah kesemena-menaan,’’katanyam
Atas kesimpulan itu, Djalal berencana melakukan pembelaan diri dan meminta perlindungan dari partai. Melalui surat tertanggal 29 Maret, Djalaluddin pun menyurati Ketua DPD I Partai Golkar Sumut.
Benteng Khianati Risuddin
Kekesalan Djalaluddin terhadap pemecatan dirinya dan Risuddin, semakin menjadi-jadi ketika nama Benteng Panjaitan, Plt Ketua PDP Partai Golkar Asahan, disebut-sebut. Dia mengatakan Benteng ada di balik skenario pemecatan tersebut.
Malah lebih ekstrem, Djalaluddin menuduh Benteng sebagai pengkhianat. ‘’Saya tahu persis seperti apa Benteng sebenarnya. Dia terpilih dan duduk sebagai angota DPRD juga karena jasa Pak Risuddin. Tapi sekarang, setelah duduk sebagai Ketua DPRD, dia (Benteng, red) malah berkhianat,’’ kata Djalal.
Ia tak menyangka Benteng akan berbuat seperti. Namun setelah keluarnya surat pemecatan tersebut, Djalaluddin akhirnya sadar bahwa orang-orang Golkar telah mengkhianati Risuddin.
Sementara mantan kader Golkar lain mengaku, pemecatan terhadap Risuddin dan Djalaluddin tak cuma terkait pemenangan terhadap pasangan Taufan-Surya. Ada unsur lain penyebab Golkar mencampakkan Risuddin.
’’Ini perangnya Risuddin dengan Ical (Abu Rizal Bakrie) Ketua Umum Golkar. Kaitannya ya soal pelepasan HGU BSP (Bakrie Sumatra Plantations) yang hingga kini tak kunjung disetujui Pemkab Asahan,’’ kata kader yang minta namanya tak disebut di koran tersebut.
Karena intrik kepentingan elit itu, walhasil internal Partai Golkar amburadul. Kader Golkar yang mencalonkan diri sebagai calon bupati pun didepak, dengan alasan masih merupakan kerabat Risuddin. Segala cara dilakukan agar calon Risuddin tersebut tak didukung Golkar.
Eksesnya, kata mantan anggota DPRD Asahan itu, perpecahan di tubuh Golkar pun terbuka lebar dan mencuat ke permukaan. Karena ternyata Golkar menunjuk Taufan dan Surya menjadi balon bupati, ketimbang memilih Helmiati, istri Risuddin.’’Walhasil pendukung setia Risuddin pun melakukan pengkhianatan lantaran DPP Golkar memilih Taufan-Surya, ‘’katanya.
Sementara Benteng Panjaitan, Plt Ketua Golkar Asahan, hingga tadi malam belum berhasil dimintai penjelasan terkait tuduhan pengkhianatan yang dilakukannya terhadap Risuddin. Ketua DPRD Asahan itu enggan membalas konfirmasi via SMS yang dilayangkan di dua nomor handphone miliknya, sejak siang kemarin. (Wik)
sumber : metrosiantar.com
Short URL: http://asahannews.com/?p=1834


