|

Perang Apel dan Orange Computer

asahannewsBudi Rahardjo tertegun sejenak. Sejurus kemudian, dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) itu mengajak eBizzAsia melongok ke komputernya. Setelah menanyakan alamat e-mail, dengan menggunakan aplikasi Linux, Budi melacak apa server website eBizz? Sejenak kemudian ia sudah membuat kesimpulan bahwa website majalah eBizz menggunakan server aplikasi Apache produk Linux. Tak cuma itu. Dengan aplikasi Linux, Budi juga bisa mengetahui apakah website eBizzAsia dikunjungi orang atau tidak?

Bagi kalangan akademisi seperti Budi Rahardjo, aplikasi Linux bukanlah barang asing. Sebab, implementasi operating system (OS) ini memang inisiatornya berasal dari kalangan terbatas dan kecil di kampus-kampus. Mereka membawa oleh-oleh Linux setelah belajar di luar negeri. Budi Rahardjo, Onno W. Purbo, dan Paulus Yono adalah pelopor penggunaan Linux di ITB. Di Universitas Indonesia ada Rahmat Samik Ibrahim dan di Universitas Gunadarma ada I Made Wiryana. Merekalah yang mengenalkan teknologi Linux.

Namun, bagi kalangan kebanyakan yang sudah karatan dengan OS yang lebih dahulu ada, Linux menjadi barang asing. Maklum, sebagai sistem yang terbuka (open source), Linux tidak disokong oleh sebuah perusahaan besar yang mempromosikan dan dan memasarkan produknya secara terbuka. Ini berbeda dengan perusahaan pemroduk OS yang closed source seperti Microsoft. Perusahaan ini membenamkan triliunan rupiah untuk mempromosikan dan memasarkan produknya ke berbagai negara belahan dunia.

Tetapi, itu bukan berarti gerilya para “pinguin” (sebutan penular Linux) tidak seru. Pada 1995, misalnya, Bambang Pranowo mengenalkan SuSE 4.4.1, salah satu varian Linux, di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pada saat yang sama, milis id-linux terbentuk dan tahun 1996 berubah menjadi milis linux.or.id. Sejak itu, Kelompok Pengguna Linux Indonesia (KPLI) menjamur. Inilah cikal-bakal terbentuknya komunitas Linux. Lalu, digulirkanlah proyek dokumentasi Linux berbahasa Indonesia di bawah komando M Damt.

Perkembangan berikutnya kian seru. Tahun 1998, SuSE berbahasa Indonesia dibuat di Universitas Gunadarma yang dikoordinasikan oleh Made Wiryana. Akibat source code-nya yang terbuka dan bebas modifikasi, muncullah varian-varian Linux lain, seperti RedHat, Mandrake, Slackware, Turbo Linux, dan banyak yang lain. Lalu, Maret 2001 lalu, Trustix Merdeka diluncurkan. Pada saat yang sama, majalah InfoLINUX di-launching, nontonvcd mulai dirilis, dan siswa SMK mulai diajarkan Linux. Di akhir 2001, pemerintah via BPPT meluncurkan piranti lunak open source, yaitu program distro (semacam lumbung) Linux WinBI (Windows Berbahasa Indonesia) berbasis Trustix Merdeka.

Perkembangan Linux di Indonesia, menurut Made Wiryana, amat berbeda dengan yang terjadi di luar negeri. Di Eropa, Amerika dan Australia, merembesnya Linux dipelopori oleh institusi pendidikan. “Sementara di Indonesia belum ada satu pun institusi pendidikan yang aktif memasyarakatkan Linux,” kata Made. Yang ada cuma inisiatif pribadi-pribadi. Ini terjadi karena dunia pendidikan TI di Indonesia cuma mengikuti tren dengan memakai program, bukan menciptakan tren. Padahal, institusi pendidikan yang memperoleh dana dari publik semestinya mengembalikan hasilnya pada publik. Nah, open source dan Linux diyakini Made bisa mencegah terjadinya digital divide (kesenjangan digital) akibat software closed source seperti Microsoft.

Terlepas siapa inisiatornya, kini bermunculan perusahaan berbasiskan Linux, seperti Trustix, eLinux, NurulFikri, eBdesk, Nawala, Trabas, dan Linuxindo. Sebagai salah satu inisiator Linux di Indonesia, PT Meitraco Bahana Sejahtera (Trabas) sebetulnya baru benar-benar menerjuni jalur Linux pada 1999 lalu. Padahal, perusahaan berbasis di Bandung itu sudah berdiri sejak 1995. Menurut Rheza Sutedja, Managing Director Trabas, banting setir itu bukan semata-mata bisnis, tapi Linux memang bisa menjadi salah satu alternatif dari operating system yang sudah ada di pasar.

Rupanya, keputusan Rheza tidak salah. Trabas merupakan sedikit perusahaan aplikasi TI yang bisa bertahan hingga kini. Dengan memusatkan pengembangan produk di Bandung, tahun lalu Trabas membuka kantor baru di Jakarta. Tak lain karena pertumbuhan penjualan Trabas yang mencapai 500%. Bahkan, untuk 2001, Rheza menaksir bisa menangguk tidak kurang Rp 5 milyar. Dan pada tahun 2002 mereka menangguk pendapatan sekitar Rp 15 milyar.

Trabas punya produk andalan software system, terutama untuk billing system. Trabas juga menyediakan jasa service dan maintenance untuk produk-produk yang dibuatnya. Berbeda dengan Trabas, Linuxindo menyediakan produk-produk solusi total berbasis Linux. Sementara, Trustix bergerak dalam pembuatan software berbasis Linux. Namanya Trustix Secure dan Trustix Merdeka. eBdesk lain lagi. Perusahaan ini, selain menyediakan software berbasis Linux, juga melayani produk berbasis Microsoft. Di lini lain, ada PT Capella Sumber Intranet yang menjual lengkap produk hardware (server), software berbasis Linux berikut services dan maintenance-nya. Nama produk terpadu Capella berjuluk C-Linux.

Di luar bisnis sistem operasi dan hardware itu, Linux juga membuka peluang baru di bisnis pelatihan. Perusahaan-perusahaan ini menyediakan paket-paket latihan ataupun training untuk solusi berbasis Linux. Antara lain, perusahaan Nurul Fikri (Bogor), Inixindo, Linuxindo, dan eLinux. Persaingan di antara mereka konon terjadi cukup sengit. Akhirnya, baik bisnis pelatihan maupun software terjadilah apa yang disebut Made Wiryana, pakar Linux asal Indonesia yang sedang menyelesaikan S3-nya di Jerman, sebagai bentuk co-opetition. Artinya, mereka bersaing sekaligus berkolaborasi.

Namun, sesungguhnya kompetisi yang terjadi di antara pelaku bisnis Linux belumlah begitu hebat. Dalam hal tertentu mereka justru menjalin kerja sama, terutama untuk melawan sistem operasi tertutup: Microsoft. “Kompetisi yang riil memang dengan Microsoft,” kata Riza Achrullah, Direktur Pelaksana Trustix. Maklum, Microsoft memang lahir sepuluh tahun lebih dulu. Dan kini pangsa pasarnya bisa dikatakan mayoritas.

Masih segar bagaimana Microsoft menuntut jutaan dolar AS kepada lima toko komputer di Jakarta dan ternyata pengadilan memenangkan gugatan perusahaan milik Bill Gates tersebut. Juga pemberlakukan UU No. 19/2002 tentang Hak Cipta pada 29 Juli 2003 lalu. Tentu ini membuat masyarakat pengguna komputer was-was. Sebab, selama ini orang membeli komputer selalu minta diinstalkan bermacam-macam aplikasi berbasis Windows. Dalam kondisi negara supermiskin seperti Indonesia adalah tidak mungkin membeli lisensi untuk semua aplikasi yang diinstal tersebut karena memang mahal. Bisa dipastikan jika Windows yang terpasang adalah hasil bajakan.

Kondisi ini ibarat blessing in disguise bagi Linux. Para pengguna software bajakan tentu akan menoleh pada operating system lain, yaitu Linux. Linux sejatinya berintikan kebebasan, mengacu kepada pengguna yang dengan bebas memakai, menggandakan, mendistribusikan, maupun mengubah software tersebut. Source code bisa diperoleh secara cuma-cuma, bahkan Linux bisa di-download secara gratis dari internet.

Tak salah jika Made Wiryana optimistis kue Linux bakal semakin mekar. “Saat ini baru 20%,” kata Made. Rheza Sutedja mengamini. Menurut Rheza, dari nilai pasar bisnis TI di Indonesia yang mencakup hardware, software, dan service senilai US$ 937 juta, ditaksir pangsa Linux sebesar 27%. Jika Linux bisa menekan harga sedemikian rendah, tentu pangsa tersebut semakin berkembang. Indikasinya tampak jelas, perusahaan klien eBdesk, jika sebelumnya 30% memilih Linux dan 60% Microsoft, kini justru terbalik: 65% memilih Linux. Luar biasa, karena kenaikannya lebih dari dua kali lipat.

Saat ini, pengguna terbesar Linux di dunia adalah Jerman dan Cina. Boleh jadi ini tidak lepas dari lingkungan Jerman yang sangat maniak terhadap Linux. Makanya bisa dimengerti jika Jerman tampak begitu protektif terhadap software produk Amerika, Windows. Maklum, di sana memang berkembang tuduhan jika Windows produksi Microsoft disusupi sebuah program yang bisa mengirim data (rahasia) dari negara pengguna ke Amerika. Makanya, tidak heran jika pengguna software Microsoft di Jerman begitu dibenci.

Pandangan di tingkat global yang miring itu tentu menguntungkan Linux. Ke depan, kompetisi Microsoft dengan Linux di Indonesia dalam menggaet para klien perusahaan tampaknya kian seru. Sebab, seperti kata I Gusti Putu Suryawirawan, Direktur Industri Elektronika Departemen Perindustrian dan Perdagangan, pasarnya masih besar. Ia tidak mengada-ada karena dari ribuan, bahkan jutaan, perusahaan industri dan perdagangan yang beroperasi di Indonesia sekitar 80% belum melek e-commerce. Menggiurkan.

Cuma, kendalanya, kata Made Wiryana, perkembangannya tergantung penerimaan orang Indonesia. Saat ini orang Indonesia maunya Linux sebagai barang jadi. Padahal, kelebihan Linux karena ia bukan barang jadi, melainkan lantaran bisa diutak-atik sesuai kebutuhan yang berbeda. “Lucunya, hal itu dikeluarkan oleh mereka yang mengaku developer,” kata Made. Makanya, Linux disalahkan tidak bisa untuk desktop, tidak cocok untuk anak-anak. Padahal, ia melihat Internet Kiosk, workstation perpustakaan, dan web top pakai Linux.

Amat berbeda dengan yang terjadi di tingkat dunia. Linux kini malah sudah merambah ke peralatan embedded seperti controller robot, peralatan VoIP, PDA seukuran jam tangan, hingga peralatan komputer kelas serius seperti komputer mainframe IBM S/390 yang dapat menggunakan Linux. Juga komputer kluster yang sering dipakai untuk komputasi setara superkomputer, seperti yang dipakai pada animasi film Titanic dan Shrek.

Bahkan, Meksiko, Argentina, Brasil, Jerman, Norwegia, dan Prancis mulai menunjukkan dukungan formal pemanfaatan sistem operasi Linux dan aplikasi open source. Jerman, misalnya, lewat Kementerian Ekonomi dan Teknologi, malah mengeluarkan dokumen yang jelas-jelas mendorong kearah open source. Di Argentina bahkan sudah merambah ke UU. “Karena mereka melihat open source hemat, sekuritinya andal, bahasanya bisa diutak-atik sesuai kebutuhan dan tak ingin tergantung negara lain,” kata Made Wiryana.

Sebaliknya, banyak kantor pemerintah di Indonesia yang masih memakai solusi proprietary yang mahal dan sangat tergantung pada satu vendor. Padahal, kata Budi Rahardjo, aplikasi Linux jauh lebih fleksibel dibandingkan Microsoft. Bahkan, untuk programming, Linux juga jauh lebih yahud. Contohnya, ketika Linux dipasang di Pentium II ternyata jalannya masih kencang. Tapi, ketika komputer Pentium II dipasang Windows95 atau WindowsXP, jalannya seperti siput. “Jadi, Linux tidak membutuhkan hardware yang andal,” kata Budi Rahardjo.

Cuma, Microsoft sebagai penguasa pasar tak mau menyerah begitu saja pada pendatang baru. Bahkan, terkadang menurut Budi, Microsoft menempuh cara- cara licik. Misalnya, perusahaan software asal Amerika itu memberi harga murah untuk aplikasi-aplikasinya jika dijual satu paket dangan komputer merek Acer. Tapi, jika Acer, Wearnes, dan perusahaan komputer lain melanggar dan memasukkan aplikasi Linux, misalnya, Microsoft tidak segan- segan mendenda perusahaan tersebut. “Itu licik namanya,” kata Budi.

Namun, tudingan miring Budi dibantah oleh Ari Kunwidodo, Vice President Microsoft Indonesia. Setelah belajar dari banyak kasus di AS, kata Ari, Microsoft kini tidak lagi membuat agreement yang eksklusif. Misalnya, ketika meneken perjanjian dengan IBM, tak mungkin Microsoft membatasi hanya dengan perusahaan asal Paman Sam ini, tapi bisa pula dengan Linux. “Karena secara etik, perjanjian tersebut tidak fair,” kata Ari.

Membesarnya market share Linux juga tak membuat Microsoft gentar. Menurut Ari, naiknya pangsa pasar Linux tidak otomatis menggerogoti pangsa pasar Microsoft. Karena, riilnya pertumbuhan pasar perusahaan ini mencapai 40% dibanding tahun lalu. Bisa jadi yang tergerus adalah pasar OS lain, Novell misalnya. Makanya, Microsoft tetap agresif memasarkan produknya dengan berbagai skema bisnis karena market dan demand-nya ada.

Memang, tak ada kecap nomor dua. Masing-masing vendor tentu mengklaim dirinya paling baik. Bahkan, menurut Ari, Microsoft tetap tumbuh karena, selain developer yang menggunakan produk Microsoft makin banyak, para konsumennya juga merasa aman. Para pengguna selain sudah banyak temannya, mereka merasa aman karena setiap saat bisa komplain. Ya, ibarat membeli buah, Anda dipersilahkan memilih apel atau orange. Silakan pilih. • ki

Short URL: http://asahannews.com/?p=326

Posted by on Aug 26 2009. Filed under INFORMASI. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

bisnis online Informasi Kesehatan Lainnya : Agung Farma
120x600 ad code [Inner pages]

seputar_islam

Recently Commented