|

Pelabuhan Beton tak Layak untuk Penumpang

mudik-batamBATAM, AN -Untuk memastikan mudik lebaran berjalan lancar di Pelabuhan Beton Sekupang, Kapolda Kepri Brigjen Pol Pudji Hartanto didampingi Kapoltebes Barelang Kombes Pol Leonidas Braksan, dan beberapa anggota DPRD Kepri terjun langsung memberikan arahan agar sesama penumpang tidak saling dorong mendorong, Rabu (16/9). Namun baru 10 menit Kapolda memberikan arahan kepada penumpang yang berada di gerbang tunggu menuju kapal, penumpang sudah tak sabar, dan saling desak- desakan untuk bisa masuk kapal, sampai ada seorang ibu dan anak terjatuh di depan Kapolda. Dengan sigap Kapolda langsung menolong penumpang tersebut. “Sabar- sabar ya. Semua bisa naik kapal, jangan dorong-dorongan,” ujar Kapolda, Rabu (16/9).

Berulang kali arahan tertib dan tidak saling berebut disampaikan petugas KPPP dan Brimob Polda, tapi rasa lelah menunggu dan berdesak-desakan ingin paling cepat naik kapal, membuat imbauan tersebut tak digubris. Jadilah, anak-anak dan penumpang wanita menjadi korban. Anak-anak kecil yang digendong orangtuanya bertangisan.

Beberapa orang anak kecil yang terjepit oleh antrean penumpang KM Kelud tujuan Jakarta ini langsung diamankan ke Pos Kesatuan Pengamanan Laut dan Pantai  (KPLP). “Mereka antri  sejak pagi tadi. Bahkan waktu hujan turun tadi saja, mereka tidak hiraukan. Alasan utama mereka ingin naik kapal cepat dan mendapat tempat tidur,” kata seorang petugas di pelabuhan.

Melihat upaya penumpang yang tidak menghiraukan penumpang yang antri di bagian depan, Kapolda meminta agar diberlakukan sistem buka tutup. “Kita pahami kelelahan mereka yang sejak pagi antri. Tapi, melihat saling dorong-dorongan, maka sistem buka tutup jalan keluarnya. Jadi, pintu  ruang tunggu dibuka dan penumpang dalam jumlah tertentu disuruh cepat naik ke kapal. Ketika naik tanggal antri, maka pintu ruang tunggunya kita tutup. Begitu seterusnya hingga penumpang terakhir,” jelas Kapolda.

Keberangkatan KM Kelud, Rabu (16/9) merupakan pemberangkatan penumpang mudik terakhir secara reguler. Pemberangkatan paling terakhir dengan menggunakan kapal ekstra dilakukan pada hari Sabtu (19/9).

Anggota DPRD Kepri Abdul Aziz menyebutkan pelabuhan Beton Sekupang  tidak layak dijadikan pelabuhan penumpang. Karena ruang tunggunya saja tidak bisa membuat nyaman para calon penumpang yang sedang menunggu sandarnya kapal. Kemudian ditambah lagi dengan atap dan dinding semuanya dari seng sehingga susana di dalam ruang tunggu tersebut menjadi panas dan pengap.

“Pelabuhan Beton Sekupang ini sebenarnya diperuntukan untuk pelabuhan barang atau pelabuhan kargo. Jadi sangat tidak layak jika dijadikan pelabuhan penumpang ini,”ujarnya.  Pendapat senada disampaikan Kapolda Kepri. “Informasinya ini pelabuhan barang, jadi tempat penumpang menunggu tadi adalah gudang. Kalau pemerintah dan anggota DPRD ingin menyatakan untuk membangun Pelabuhan Penumpang, maka pilihlah daerah yang strategis,” ujar Brigjen Puji.

Azis menuturkan, dari hasil peninjauan langsung ke Pelabuhan Beton Sekupang ini, pihaknya dalam waktu dekat akan melakukan hearing dan meminta pemeritah untuk memperhatkan pelabuhan pengganti untuk sandarnya kapal-kapal milik PT Pelni.

Kapolda Dukung Tindakan BC
Di tengah-tengah ribuan penumpang kapal, aktifitas yang tidak kalah gesitnya adalah petugas porter barang yang berupaya masuk ke kapal membawa barang- barang yang diduga tidak mendapatkan izin dari petugas Bea dan Cukai. Belasan petugas Bea Cukai saling tarik-menarik dengan porter.

Karena yang berdiri tidak jauh dari petugas BC adalah Kapolda, aksi perlawanan para porter akhirnya mengalah. Sehingga puluhan tas ukuran besar yang diduga milik seorang pengusaha di Batam, digagalkan naik ke atas kapal.
Melihat kejadian itu, Kapolda Kepri langsung bereaksi. Kepada Kapoltabes Barelang, diperintahkan agar membayar uang jasa porter jika barang angkutannya tidak berhasil sampai ke kapal. Upaya ini untuk meminimalisasi kekerasan antara Porter dengan petugas BC.

“Jika porternya bersikeras memasukan barang-barang itu ke kepal, dengan alasan angkat barang untuk cari uang. Maka kita yang mengganti uang jasa angkutan para porter tersebut, asal tas-tas ukuran besar itu ditinggalkan, dan dibawah pengawasan petugas BC,” ujar Kapolda.

“Jika mereka tetap memaksa dan tidak terima uang, berarti kecurigaan petugas BC ada benarnya. Jika tetap melawan, berikan tindakan tegas. Jika perlu diamankan ya diamankan,” tegas Brigjen Puji memerintahkan Kapoltabes. (bur/ded)

Short URL: http://asahannews.com/?p=700

Posted by on Sep 17 2009. Filed under BATAM. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

bisnis online Informasi Kesehatan Lainnya : Agung Farma
120x600 ad code [Inner pages]

seputar_islam

Recently Commented