Kondisi Kesehatan Korban Banjir Madina Terancam
MEDAN–AN: Kondisi kesehatan sekitar 2.000 warga enam desa korban banjir di Kecamatan Muara Batang Gadis, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, mulai terancam karena minimnya bahan makanan dan obat-obatan di lokasi pengungsian.
“Kondisi di lapangan memang sulit. Baru perahu karet yang bisa masuk ke lokasi, itu pun membutuhkan waktu delapan jam dari posko bantuan di Desa Singkuang, Kecamatan Muara Sipongi,” kata Ketua Satuan Koordinasi Pelaksana (Satkorlak) Penanganan Bencana (PB) Sumut, Salamuddin Daulay ketika dihubungi dari Medan, Kamis.
Musibah banjir tersebut terjadi Selasa (15/9) dinihari sekitar pukul 02:00 WIB, memporakporandakan Desa Rantau Panjang, Lubuk Kapondong I dan II, Saleh Baru, Tagilang dan Desa Manuncang.
Selain sejumlah korban dilaporkan tewas, puluhan lainnya juga dilaporkan hilang, 728 rumah warga hanyut dan rusak berat.
Keenam desa dilanda banjir akibat meluapnya Sungai Sulang Aling yang merupakan anak Sungai Batang Gadis, sungai terbesar di Kabupaten Madina. Kejadian yang sama belum pernah terjadi sebelumnya.
Menurut Salamuddin, sulitnya bantuan bahan makanan dan obat-obatan mencapai lokasi musibah membuat kondisi kesehatan para korban dipastikan menurun drastis pascabanjir melanda desa mereka, Selasa (15/9) dinihari lalu.
“Ada sekitar 2.000 warga dari enam desa itu yang kondisi kesehatannya terancam menurun dan mereka mengungsi di berbagai lokasi, seperti di sekolah-sekolah, musala dan bahkan di lahan-lahan kosong di kawasan ketinggian,” katanya.
Ia mengatakan, satu-satunya solusi agar pasokan bahan makanan dan obat-obatan dapat diantar dengan cepat ke lokasi bencana adalah dengan menggunakan helikopter.
“Helikopter berkemungkinan baru bisa digunakan besok, tetapi kita akan upayakan secepatnya agar masyarakat yang menjadi korban terbantu,” ujarnya.
Penanganan korban banjir oleh Pemprov Sumut, Pemkab Madina dan Satkorlak PB Sumut terkesan kurang terkoordinir dengan baik, sehingga belum satu pihak pun yang bisa memastikan berapa korban jiwa dalam musibah tersebut.
Baik Bupati Madina, Amrun Daulay maupun Gubernur H Syamsul Arifin sudah beberapa kali saling meralat jumlah korban tewas maupun hilang, begitu juga dengan pihak Satkorlak PB Sumut.
“Tapi yang kami tahu jumlah korban tewas hingga saat ini 11 orang,” ujar Salamuddin Daulay. Namun demikian ia mengakui informasi mengenai hal itu masih simpang-siur. (Ant/OL-01)
Short URL: http://asahannews.com/?p=681



