Info Tekno :600 Ilmuwan Dunia Akan Hadiri IPPC
Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) ke-31 yang diselenggarakan di Nusadua, Bali pada 26-29 Oktober 2009 dan akan dihadiri sekitar 600 ilmuwan dunia terkait perubahan iklim.
“IPCC adalah lembaga ilmiah bagian dari UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change) atau Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim -red),” kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dr Sri Woro Harijono kepada wartawan di Jakarta.
Namun, UNFCCC terlalu politis dan penuh kepentingan, ujarnya, sementara IPCC merupakan lembaga ilmiah yang terdiri dari para ilmuwan terkait geofisika, meteorologi, lingkungan, kehutanan, kelautan dan lain-lain.
Meski demikian, Woro mengatakan, hasil pembahasan ilmiah IPCC selalu menjadi bahan dasar dari setiap pertemuan UNFCCC, termasuk pertemuan UNFCCC COP ke-15 yang akan dilangsungkan di Copenhagen pada Desember 2009.
Menurut dia, sidang IPCC di Bali akan membawa sejumlah manfaat bagi Indonesia, antara lain menambah peran serta ilmuwan dalam negeri dalam persoalan perubahan iklim.
“Kesertaan Indonesia dalam sidang IPCC dan UNFCCC masih belum berimbang, peserta pada sidang UNFCCC sampai sekitar 100 orang delegasi, tetapi pada sidang IPCC tak sampai lima orang. Jadi masih dominan di isu politik dari pada ipteknya,” katanya.
Sidang IPCC di Bali diharapkan juga dapat meningkatkan kapasitas riset dan ilmiah ilmuwan Indonesia terkait perubahan iklim serta dapat berselaras dengan arah perkembangan di dunia internasional.
Pada sidang IPCC ini, lanjut Woro, Indonesia yang merupakan negara tropis sekaligus maritim akan mengangkat isu emisi dan absorsi karbon (CO2), dari dua sisi yakni kehutanan dan kelautan.
Indonesia juga akan meminta penjelasan tentang dimasukkannya Indonesia sebagai pembuang emisi ketiga terbesar dunia yang dalam jangka panjang akan merugikan Indonesia, khususnya pasca Kyoto Protocol.
“Metode apapun yang dipakai dapat terlihat dari hasil observasi emisi riil CO2, dengan demikian harus sesuai dengan hasil pengukuran di stasiun Kototabang yang menunjukkan bahwa rata-rata CO2 di Indonesia masih lebih rendah dari Mauna Loa Hawai di AS maupun rata-rata CO2 dunia,” katanya.
Dalam sidang itu, ujarnya, Indonesia juga akan mengusulkan agar negara berkembang diberi bantuan dan kapasitas dalam menghitung absorsi tata guna lahan dan lautan.
Dalam sidang IPCC itu delegasi RI akan dibagi dalam tiga kelompok kerja yang terdiri dari ilmuwan di berbagai lembaga seperti BMKG, BPPT, LAPAN, IPB, KLH, DKP, Kementerian Ristek, Menkokesra, Deplu Bappenas dan lain-lain. (kpl/cax)
sumber : kapanlagi.com
Short URL: http://asahannews.com/?p=1235


