Gebu Cinta untuk Ita
asahan ( Gebu Cinta untuk ITA )
Irvan Nasution :
SEBELUM azal menjemput, simpati masyarakat terhadap penderitaan almarhumah Ita Susilawati makin hari makin besar. Seperti yang digagas Kajian Informasi Perempuan Asahan (KIPAS) dan PWI Reformasi Asahan, yang membentuk Gerakan Seribu Cinta Untuk Ita alias Gebu Cinta.
Panitia pengumpulan dana Gebu Cinta, Yulita Sari Nasution dan Siti Nurbaya SH dari KIPAS, mengatakan, penggalangan dana sudah dilaksanakan sejak Kamis (25/3) lalu. Hingga Jumat (26/2) sekitar pukul 14.00, sudah terkumpul Rp1.019.000. Pengumpulan dana itu masih hanya bertempat di kamar rumah sakit ruang VI RSU HAMS Kisaran, tempat Ita dirawat.
Nah, ketika masyarakat menjenguk Ita, sebagian besar menyisihkan uang yang dimaksukkan ke kardus. Setiap hari, berpuluh-puluh penjenguk harus rela antre melihat kondisi Ita. Bahkan tim medis tampak kewalahan karena khawatir terhadap kondisi Ita. Karena itu pula Ita sempat dipindahkan ke ruang VIP.
Masih Misterius
Hingga akhirnya meninggal, tim dokter RSU HAMS hanya menyatakan Ita mengalami komplikasi penyakit sehingga diperlukan penanganan khusus. Namun kepastian penyakit apa saja yang menerpa Ita, belum diketahui.
Berdasarkan pemeriksaan dokter spesialis kandungan dr Binsar Sitanggang SpOg, menjelaskan, Ita mengalami penuaan dini (menoupouse practice) yang menyebabkan terhentinya menstruasi (haids) sebelum usianya mencapai 40 tahun. Akibatnya, Ita mengalami suhu tubuh yang tidak teratur (hot flashes) serta emosinya tidak stabil, ditambah lagi mengecilnya dinding rahim. Kondisi ini yang sangat berpengaruh terhadap penyakit Ita.
Penyakit Ita termasuk langka dan Ita merupakan orang pertama dirawat di RSU HAMS Kisaran. Sementara Dokter Spesialis penyakit Kulit dan Kelamin, dr Alinafiah Pane SpKK mengatakan, penuaan dini tersebut diduga disebabkan kelainan pada hormon, karena hasil pemeriksaan, Ita tidak mengalami menstruasi selama dua tahun, dan hal itu mengakibatkan terjadinya keriput di bagian wajah dan melemahkan otot di sekitar mata.
Penyebabnya, terang Alihanafiah, Ita banyak mengonsumsi obat-obatan dan bahan kimia tanpa resep dokter.
Tempuh Jalur Hukum
Kepergian mantan kembang desa Kampung Sido Keno, Kecamatan Pula Bandring, Asahan itu tidak serta merta berakhir. Pihak keluarga berencana membawa kasus Ita ke meja hukum karena ada indikasi, suaminya, Hendra Efendi melakukan kekerasan dalam rumah tangga.
LBH Medan (Pos Asahan-Tanjung Balai) terkait indikasi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan Hendra Effendi, menyatakan masih akan mempelajarinya kasusnya untuk disimpulkan apakah masih bisa diusut atau tidak sama sekali. Pasalnya, Ita keburu meninggal dunia sebelum kasusnya dibuka.
Kordinator LBH Medan (Pos Asahan–Tanjung Balai) Imam Syahtria menyatakan, somasi terhadap Ita belum sempat dikirim alias masih dalam proses. Diakuinya, keterlambatan pengiriman somasi karena waktu tersita mengurusi pelayanan medis terhadap Ita dan mempelopori kegiatan Gerakan Seribu Cinta Untuk Ita (Gebu Cinta Untuk Ita) bersama PWI Reformasi Asahan dan KIPAS.
“Kita akan pelajari lagi dulu apakah kasus ini dapat dilanjutkan atau tidak,” ungkap dia.
Namun dia menegaskan, terkait dengan kasus hukum ini, pihak keluarga telah mengamanahkan kepada LBH Medan (Pos Asahan–Tanjung Balai) untuk terus menindaklanjuti kasus KDRT yang dituduhkan. Bahkan kasus juga berkembang dari kasus KDRT menjadi kasus penipuan, yang diduga dilakukan suaminya. Hanya saja soal penipuan tersebut belum dirinci pihak LBH.
Usai pemakaman, pihak keluarga Ita kepada staf Divisi Perempuan, Indah Maharani Sitorus dari LBH Medan meminta agar indikasi KDRT yang menimpa Ita ditindaklanjuti ke ranah hukum.
“Kita siap melanjutkan proses hukum ini. Namun kami akan pelajari dulu apakah kasus ini dapat dilanjutkan atau tidak,” ungkap Maharani.
Sebagaimana disebutkan pihak keluarga, Hendra Efendi, hanya sekali menemui Ita setelah menikah. Pengakuan Ita sendiri, suaminya telah meninggalkan desanya setelah 3 bulan menikah menuju Binjai. Setelah 3 bulan di perantauan, atau setelah umur pernikahan 6 bulan, suaminya kembali datang je desanya. Ketika itu, sebut Ita, ia tengah sakit.
“Kemudian dia tak pernah datang lagi menjenguk,” begitu kata Ita semasa hidup.
sumber : posmetro-medan.com
Short URL: http://asahannews.com/?p=1766



ada beberapa penderita penyakit aneh di asahan, dan harusnya menjadi peerhatian bagi pemda serta dinas kesehatan kabupaten terkait.sebenarnya bukanlah aneh tetapi sesuatu yang belum di fahami atau tidak tereksspos oleh pihak IDI dan para dokter berpengalaman…kiranya ini menjadi suatu pelajaran bagi kita semua..trimakasih