Bungkam Kritik, AS Wariskan Ilmu Pembunuh Pada Anak-Anak
WASHINGTON (Asahan News) – Minggu lalu, tepatnya pada hari Sabtu (11/9), enam orang anggota dari berbagai kelompok penentang perang, termasuk World Can’t Wait dan Military Families Speak Out, ditambah dengan seorang jurnalis Oped News, ditangkap dalam sebuah aksi unjuk rasa yang diorganisir untuk menutup The Army Experience Center (AEC), sebuah lokasi di Mall Franklin Mills di Philadelphia yang “mengundang” anak-anak muda untuk turut berpartisipasi dalam permainan simulasi perang.
Orang-orang yang ditangkap tersebut dibebaskan pada hari Minggu paginya setelah dituntut dengan tuduhan konspirasi kriminal. Berkas tuntutan hukumnya menyebutkan bahwa mereka akan dihadapkan di persidangan di Pengadilan Kotamadya Philadelhia pada tanggal 23 September mendatang.
Orang-orang yang ditahan tersebut termasuk Debra Sweet, direktur nasional dari World Can’t Wait, dan Elaine Brower dari Military Families Speak Out, yang memiliki putra yang telah dikirimkan tiga kali ke medan perang Afghanistan dan Irak.
Brower berkata: “AEC memberikan senjata kepada anak-anak berusia 13 tahun, memancing mereka dengan permainan video game yang sarat unsur kekerasan. Dengan semakin banyaknya warga sipil Afghanistan dan pasukan militer AS yang terbunuh dalam penjajahan AS di Afghanistan, maka dengan ini kami mengatakan tidak untuk perang-perang tersebut. Kita harus menutup keran aliran anak muda yang memasuki militer, anak-anak tersebut dipergunakan untuk menjalankan kejahatan perang atas nama kita semua.”
Para pengunjuk rasa yang turut ditangkap bersama dengan Sweet dan Brower adalah Sarah Wellington, Joan Plume, Beverly Rice, Rich Marini, dan editor pengelola Oped News, Cheryl Biren, yang berdiri terpisah dengan orang-orang yang ditangkap dan memotret para petugas kepolisian yang melakukan penangkapan.
Kepada polisi, Biren mengatakan bahwa dirinya adalah seorang jurnalis, namun para polisi tersebut kemudian mendekati Biren lalu menangkapnya bersama para pemrotes lainnya.
Setelah dibebaskan, Biren berkata: “Bagaimana mungkin pers dihambat dari upaya untuk meliput sebuah berita? Ini adalah sebuah hal yang memalukan. Anti demokrasi.”
Sebelumnya, sebagai bagian dari ajang protes terhadap AEC, jurnalis pemenang hadiah Pulitzer, Christopher Hedges, penulis buku “War Is A Force That Gives Us Meaning,” dan “Empire of Illusion: The End of Literacy and The Triumph of Spectacle,” berbicara di hadapan kerumunan massa di luar Mall Franklin Mills.
Hedges, seorang mantan koresponden perang untuk sejumlah media, termasuk New York Times, berbicara blak-blakan mengenai kebenciannya terhadap perang setelah menghabiskan waktu bertahun-tahun meliput berbagai konflik berskala besar di El Salvador, Timur Tengah, Bosnia, dan Kosovo.
Hedges merilis sebuah pernyataan yang menggambarkan pelolakannya terhadap keberadaan Army Experience Center. Ia berkata: “Perang bukanlah sebuah permainan. Senjata bukanlah mainan. Inti dari sebuah perang adalah kematian. Tujuan dari peperangan adalah untuk melenyapkan seluruh sistem yang bertentangan, mulai dari ekonomi hingga politik, sosial budaya dan pada akhirnya, keluarga.”
“Orang-orang yang membujuk anak-anak untuk bermain dengan senjata-senjata dalam peperangan tidak akan pernah membiarkan anak-anak tersebut untuk melihat apa yang dapat ditimbulkan oleh senjata-senjata tersebut pada tubuh manusia. Mereka (AEC) menyembunyikan kiebenaran fundamental mengenai kekerasan dari anak-anak tersebut dan dengan cara seperti ini, mendidik anak-anak untuk membunuh.”
Pada malam peringatan tahun ke delapan invasi AS ke Afghanistan, dengan peningkatan aksi militer Presiden Obama yang diwujudkan dalam peningkatan angka kematian warga negara Amerika (tentara AS) dan Afghanistan, maka perang Afghanistan dengan cepat kehilangan dukungan dari rakyat Amerika sendiri.
Army Experience Center adalah upaya berteknologi tinggi yang paling ambisius dari militer AS untuk menghilangkan ketidaksetujuan terhadap perang dan menggencarkan perekrutan anggota militer dengan cara menanamkan doktrin militerisme dan gairah untuk memegang senjata terhadap generasi muda.
Alat perekrutan senilai $13 juta yang dibangun diatas lahan seluas 14.500 kaki persegi (0,1347 hektar) tersebut memang memantik hujan kritikan karena berupaya untuk “menginspirasi” anak muda dengan antusiasme dalam simulasi perang yang sama sekali tidak menunjukkan sisi mengerikan dari sebuah peperangan, namun berfokus pada memacu adrenalin dengan mempergunakan senjata pembunuh. (dn/mo) Dikutip oleh www.suaramedia.com
Short URL: http://asahannews.com/?p=857


