< align="right">asahannews.com

Daerah Wisata Asahan

 

September 22nd, 2009

Bongkar Kebenaran, Obama “Dikeroyok” Agen-Agen Top CIA

6a00d8341c6bcf53ef0105355528fe970b-800wiWASHINGTON (Asahan News) – Tujuh orang mantan direktur CIA meminta Presiden Barack Obama untuk membatalkan sebuah pemeriksaan kriminal atas teknik interogasi kejam yang dipergunakan terhadap para tersangka teror dalam masa pemerintahan Bush.

Para mantan direktur CIA tersebut, yang  menjabat dalam masa pemerintahan presiden-presiden AS, baik dari kubu Demokrat maupun Republik, tiga diantaranya pernah bekerja dibawah kepemimpinan Presiden George W. Bush, menyampaikan permintaan mereka melalui sepucuk surat yang dilayangkan pada hari Jumat waktu setempat ke Gedung Putih.

petinggi_cia_bushJaksa Agung AS Eric Holder, pada bulan lalu mengumumkan bahwa dirinya menunjuk seorang penyidik independen untuk menyelidiki mengenai adanya kemungkinan penyiksaan yang dilakukan oleh para personil CIA kala melakukan interogasi, sebuah hal yang melewati batas peraturan yang diijinkan oleh pemerintahan Bush.

Kejadian tersebut dibawa oleh inspektur jenderal CIA kepada Departemen Kehakiman dalam masa pemerintahan Bush, namun para pejabat Departemen tersebut kala itu hanya memproses satu kasus saja.

“Jika investigasi kriminal yang ditutup oleh para jaksa penuntut dalam satu masa pemerintahan dapat dengan mudah dibuka kembali dan diarahkan pada penunjukan politik dalam pemerintahan berikutnya, maka perubahan arah tuntutan akan menjadi tidak berarti,” tulis para mantan direktur CIA.

WE WON'T BACK DOWN (1)Tujuh mantan direktur CIA tersebut diantaranya: Michael Hayden, Porter Goss, dan George Tenet yang menjabat dalam masa pemerintahan George W. Bush; John Deutch dan James Woolsey, yang menjabat dalam masa pemerintahan Bill Clinton; William Webster, yang menjabat dalam masa pemerintahan George H.W Bush; dan James Schlesinger, yang memimpin CIA dibawah kepemimpinan Presiden Richard Nixon. Untuk diketahui, Tenet juga menjabat pada periode akhir kepemimpinan Bill Clinton.

GeorgeTenetMedalMereka mendesak Obama untuk membalikkan keputusan Holder per tanggal 24 Agustus lalu yang berkeinginan untuk membuka kembali penyelidikan terhadap proses interogasi yang dilakukan kepada para tahanan menyusul peristiwa 11 September 2001.

Gedung Putih tidak bersedia untuk memberikan keterangan mengenai hal tersebut.

Juru Bicara CIA, Paul Gimigliano, mengatakan bahwa agen rahasia AS tersebut bekerjasama penuh dengan tinjauan ulang Departemen Kehakiman. Gimigliano mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan CIA, sebagian untuk melihat bahwa CIA dapat bergerak secepat mungkin.

“Direktur (CIA) telah membela orang-orang yang mengikuti petunjuk resmi interogasi, dan beliau akan terus melakukan hal itu,” kata Gimigliano.

Dalam surat mereka, para mantan direktur memperingatkan bahwa investigasi tersebut berpotensi untuk membuat takut para anggota CIA sehingga tidak berani melakukan tugas intelijen agresif yang “diperlukan” untuk menghadapi terorisme dan dapat menghentikan minat pemerintah asing untuk menjalin kerjasama dengan AS.

Matthew Miller, juru bicara Holder, mengatakan bahwa Jaksa Agung AS tersebut tidak sependapat bahwa penyelidikannya akan mempengaruhi para agen CIA dan komitmen mereka terhadap pekerjaan.

“Keputusan Jaksa Agung untuk memerintahkan peninjauan ulang dalam permasalahan ini dibuat sejalan dengan tugas beliau untuk memeriksa fakta-fakta dan menjalankan hukum. Seperti yang telah diperjelas oleh bapak Jaksa Agung, Departemen Kehakiman tidak akan memproses siapapun yang bertugas dengan baik dan masih mematuhi arahan hukum yang dikeluarkan oleh kantor bimbingan hukum berkenaan dengan interogasi para tahanan,” kata Miller dalam sebuah pernyataan tertulis.

Para mantan direktur CIA tersebut juga memperingatkan bahwa pemerintah asing bisa saja menjadi enggan untuk menjalin kerjasama dengan AS jika penyelidikan tersebut dilanjutkan.

“Gara-gara semangat dari sebagian orang untuk membongkar segala tindakan yang diambil pasca 9/11, maka ada banyak negara yang mungkin memutuskan bahwa tidak lagi aman bagi mereka untuk berbagi data intelijen atau bekerjasama degan kami dalam operasi-operasi anti terorisme di masa mendatang. Hal itu karena negara-negara tersebut tidak dapat memegang janji kerahasiaan dari AS,” bunyi surat tersebut.

Dalam surat itu, ditambahkan bahwa CIA hanya merujuk pada kurang dari 20 insiden kepada para jaksa penuntut dalam masa pemerintahan Bush, termasuk kasus kontraktor CIA, David Passaro. Passaro dijatuhi tuntutan, dinyatakan bersalah dan dihukum hingga delapan tahun penjara karena menganiaya seorang tahanan Afghanistan pada tahun 2007 yang berujung pada kematian tahanan yang bersangkutan.

Seorang mantan pejabat CIA yang mengetahui rincian kasus-kasus yang kini berada dalam peninjauan ulang tersebut mengatakan bahwa para jaksa dalam masa pemerintahan Bush menolak untuk melanjutkan proses hukum karena mereka tidak yakin dapat memenangkan tuntutan hukum atau karena sebagian personil CIA yang terlibat telah mendapatkan hukuman disiplin dari agen rahasia tersebut. Pejabat itu tidak bersedia menyebutkan namanya karena sensitivitas dari kasus ini.

Meski tidak turut meramu dan membubuhkan tanda tangan pada surat tersebut, Direktur CIA yang masih aktif menjabat, Leon Panetta, juga menentang keras investigasi yang dilakukan oleh Jaksa Agung AS, Eric Holder.

“Bagi saya, saya merasa seperti itu karena saya tidak meyakini bahwa ada landasan yang dapat dipergunakan sebagai dasar untuk melakukan tindakan tambahan,” kata Panetta.

“Yang menjadi kekhawatiran saya adalah… kita tidak perlu terjebak oleh masa lalu. Saya yakin bahwa kita semua akan mampu untuk melangkah maju,” katanya kepada para wartawan dalam minggu ini setelah menyampaikan pidato di Michigan. (dn/ap) Dikutip oleh www.suaramedia.com

Update me when site is updated

If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Leave a Reply

Baca Juga: