Baku Tembak dalam Penggerebegan Semula Dikira Suara Petasan
SOLO–AN: Suara letusan senjata api yang terjadi berulang kali dalam penggerebegan Noerdin M Top Kampung Kepuh Sari, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Solo, Jawa Tengah, pada Rabu (16/9) malam, oleh warga dikira suara petasan.
Warga Kampung Kepuh Sari tidak pernah mengira salah satu rumah di kampung itu menjadi persembunyian jaringan terorisme.
“Tadinya kami semua mengira itu suara petasan yang dimainkan anak-anak,” kata Margono, 59, salah seorang warga yang tinggal tidak jauh dari lokasi.
Ia mengaku saat terjadi baku tembak pertama sekitar pukul 23.00 WIB tengah berada di pos ronda di mulut jalan masuk menuju kampung bersama sejumah tetangganya. Margono baru menyadari itu suara letusan senjata api ketika melihat banyak polisi yang datang ke lokasi.
Lain Margono, lain pula Sri, 35. Peempuan yang rumahnya hanya berjarak sekitar 200 meter dari rumah kontrakan pasangan Susilo Adib dan Putri Munawaroh yang digerebeg Densus 88 antiteror Mabes Polri itu malah menduga kehadiran polisi di tempat itu untuk menangkap orang mabuk.
“Saya dengar itu suara tembakan, tapi saya kira itu polisi yang sedang menangkap orang mabuk. Baru tahu (penggerebegan teroris) setelah lihat tayangan televisi,” katanya.
Rumah milik Totok yang dikontrak pasangan Susilo Adib dan Putri Munawaroh itu berada di belakangnya terdapat kawasan hutan jati. Keberadaan rumah tersebut sedikit tersembunyi dan jauh dari beberapa rumah warga di bagian depan.
Namun, banyaknya jalan menuju lokasi memudahkan penghuni untuk melakukan aktivitas keluar masuk rumah tanpa menyita perhatian warga. Termasuk ketika ada tamu dari luar yang datang menginap di sana.
Tanda-tanda ada sesuatu yang kurang beres di tempat itu sebetulnya mulai terendus warga. Karena beberapa hari sebelum peristiwa pengepungan dan penggerebekan itu sering terlihat orang asing yang datang ke sana dan diduga kuat polisi.
“Tapi cuma hilir mudik, tidak pernah bertanya. Ya, seperti orang lewat, begitu saja. Itu terjadi beberapa kali,” kata Wagiman, warga setempat.
Kecurigaan warga itu akhirnya terbukti setelah terjadi pengepungan dan penggerebekan oleh Densus 88 antiteror Mabes Polri di salah satu rumah yang dikenal warga sebagai rumah milik Totok.
Suasana kampung yang tadinya tenang seketika berubah menjadi mencekam. Warga yang rumahnya berada dalam radius 200 meter dari lokasi penggerebekan langsung dievakuasi. (FR/OL-01) sumber : http://mediaindonesia.com
Short URL: http://asahannews.com/?p=710



