Atasi banjir, Pemprovsu perlu membuat manajemen sungai
MEDAN – Peristiwa bencana banjir bandang yang terjadi di Mandailing Natal dan memakan korban jiwa sangat disesalkan dan sangat menyedihkan. Seharusnya di zaman Informasi Teknologi (IT) atau zaman teknologi tinggi sekarang ini sudah tidak ada lagi korban jiwa dalam peristiwa banjir atau air bah tersebut, karena semuanya ada manajemennya sendiri.
“Semoga ini pelajaran berharga dan pahit bagi kita dan Sumut perlu membentuk manajemen sungai untuk mengatasi banjir dengan metode one river one management. Jadi sungai itu mulai dari hulu sampai ke muara laut harus satu manajemen, walaupun hal itu melalui beberapa kecamatan dan kabupaten tetapi harus satu manajemen di bawah koordinasi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu),” tutur Djohar Arifin Husein, malam ini.
Prof. Djohar Arifin menyebutkan, one river one management (satu sungai satu pengelolaan) merupakan ilmu pengetahuan yang sangat mudah, jadi aliran sungai yang melewati beberapa kabupaten/kota itu harus satu managemen yaitu di bawah Pemprovsu. Semua itu harus diatur manajemennya, pengendalian air sungainya dan pengendalian dari pada pembabatan lahan-lahan di sekitar sungai.
“Sungai di Sumatera Utara sangat banyak dan ini harus ditata. Dengan menerapkan one river one management ini, kita akan mengatur dan kita sudah punya data-data kecepatan air dan pengalaman banjir, serta pengalaman curah hujan. Dan kita sudah tahu kapan bulan berbahaya, kapan bulan-bulan tenang,” ujar lulusan S3 Bidang Perencanaan Kota dan Wilayah dari Universiti Malaya, Malaysia ini.
Oleh karena itu, lanjut Guru Besar dari Kopertis Sumut-NAD ini, dengan adanya one river one management, maka ada warning system (sistem peringatan) yang dimulai dari hulu dengan menempatkan petugas-petugas atau aparat di bidang pengairan yang bisa mengurus sungai dan sudah ada pos-pos dari hulu, kemudian beberapa kilometer lagi ada pos hingga ke kawasan penduduk.
Jadi dengan menggunakan kecanggihan teknologi sekarang ini, jika ada kenaikan air yang mendadak dari hulu dapat dihindari, sehingga tidak ada korban jiwa. Dengan adanya radio komunikasi, kenaikan air dari hulu dapat segera diberitahu, mulai dari ketinggian air, kecepatan air dan diperhitungkan berapa waktu air akan sampai ke pemukiman penduduk, bahkan hingga ke kota Medan.
“Dengan adanya warning system ini, maka petugas akan memberitahu kepada masyarakat melalui pengumuman-pengumuman kantor lurah atau masjid-masjid dan sebagainya yang ada di sepanjang aliran sungai bahwa beberapa menit atau beberapa jam lagi akan datang air bah, maka warga harus menghindar. Mungkin rumah atau harta tidak bisa dielakkan, tetapi korban jiwa di zaman teknologi serba canggih ini sudah tidak boleh terjadi lagi,” harap mantan pemain sepakbola PSMS Medan di era 70-an ini. Sumber Waspada.co.id
Short URL: http://asahannews.com/?p=741



