|

Asahan: Hutan Kota, Menunggu Jadi Nostalgia?

asahan ( artikel pilihan )oleh : Budhi masthuri ( Putra Asahan )
“Disini akan dibangun Hutan Kota”. Demikian antara lain bunyi tulisan yang terpampang di areal seluas 14 HA ex HGU PT.BSP Kisaran yang jaraknya hanya 100 meter dari Kantor Bupati Asahan. Hutan Kota yang sudah dicanangkan lebih kurang tiga tahun lalu, kondisinya kini terkesan tidak terawat.Pohon-pohon mahoni bantuan Menteri Kehutanan yang ditanam ketika itu bagaikan onggokan hijau yang terus berpacu dengan semak belukar. Hutan Kota terancam menjadi nostalgia dari sebuah usangnya gagasan yang tidak pernah menjadi nyata.

Padahal sebelumnya Kabupaten Asahan telah memperoleh Piala Adipura. Jika Piala Adipura merupakan penghargaan untuk pemerintahan daerah yang mampu menciptakan serta menjaga kebersihan dan lingkungan kota yang asri (teduh), melihat kenyataan ini masihkah pantas Asahan memperoleh Adipura? Pemerintah Kabupaten Asahan perlu melakukan refleksi diri mengenai hal ini. Sebagai sebuah ide, harus diakui bahwa gagasan Hutan Kota merupakan terobosan yang cerdas dan seharusnya perlu dilanjutkan pembangunannya oleh siapapun yang meneruskan pemerintahan.

Apabila Pemerintah Kabupaten Asahan nantinya masih ingin meneruskan pembangunan Hutan Kota ini, ada baiknya konsepnya di tata ulang. Hutan Kota tidak cukup diposisikan sebagai alun-alun saja, ia haruslah memberikan nilai tambah yang tinggi bagi program pelestarian alam bagi masyarakat di Asahan, dan sekaligus memberikan manfaat sebagai pengembangan pariwisata, atau lebih dikenal dengan istilah ecotourism. Konsepsi seperti ini sebenarnya telah sangat berhasil diterapkan oleh seorang Bupati dari sebuah Kabupaten terpencil di Propinsi Nusa Tenggara Timur, yaitu Kabupaten Alor.

Jika kita berkunjung di Alor, Pemerintah atau bahkan Bupatinya langsung akan mengajak setiap tamu resmi Bupati yang berkunjung untuk menanam sebatang pohon di Hutan Nostalgia. Arealnya ditata secara rapih, dan di setiap batang pohon disematkan plakat jenis tanamannya dan nama bahkan alamat orang yang menanamnya. Dinamakan Hutan Nostalgia karena memang akan memberikan kenangan tersendiri bagi tamu-tamu yang datang di Kabupaten Alor. Ketika beberapa tahun kemudian mereka berkunjung kembali ke Alor, mereka akan rindu untuk bernostalgia, melihat kembali tanaman yang dahulu pernah ditanamnya di Hutan Nostalgia. Tanah Alor-pun menjadi bagian nostalgia dari kehidupan setiap tamu-tamu yang pernah berkunjung. Jadi, jangan heran jika di Hutan Nostalgia kita akan akan menemukan nama-nama pejabat penting, sampai dengan Presiden bahkan warga negara asing tersemat di sebatang pohon yang dahulu pernah ditanamnya.

Adalah Ir.Angsgerius Takalapeta, Bupati Alor yang sudah menjabat dua periode kepemimpinan di Kabupaten Alor sebagai penggagas Hutan Nostalgia tersebut. Selama kepemimpinannya ia telah memprakarsai penanaman pohon tidak lebih dari 7.612.150 batang pohon di seluruh wilayah Kabupaten Alor, terdiri dari kenari, jambu mete, mahoni, kopi, kusambi, cendana, jati manila, mangrove, gmelina, sengon, kemiri dan tanaman langka lainnya. Hutan Nostalgia di Kabupaten Alor merupakanbentuk kreasi cerdas seorang Bupati Angsgerius, dan ini adalah satu-satunya di Indonesia.

Kita, warga Asahan juga punya Bupati yang sama-sama memimpin selama dua periode, tetapi kenapa di Kabupten Alor yang notebene daerah terpencil pada Propinsi Nusa Tenggara Timur itu bisa lahir gagasan cerdas dan birillian, tetapi di Asahan tidak? Sudah sepantasnyalah Bupati Asahan [nantinya] meniru best practice (contoh praktik keberhasilan) Bupati Alor dalam mencanangkan Hutan Kota dengan konsep ecotourism seperti itu? Ketimbang Hutan Kota dibiarkan terlantar, ada baiknya mulai sekarang, ditata ulang, sediakan bibit tanaman langka, plakat nama, serta petugasnya. Oleh karena itu, mari ajak setiap tamu kedinasan yang datang dari Luar Asahan untuk menanam sebatang pohon di Hutan Kota atau lebih tepatnya Hutan Nostalgia, atau Hutan Memori, atau apapun itu namanya, agar esok atau lusa mereka memiliki kerinduan untuk berkunjung kembali ke Asahan.

Short URL: http://asahannews.com/?p=1712

Posted by on Feb 12 2010. Filed under ASAHAN, DAERAH, KISARAN. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

1 Comment for “Asahan: Hutan Kota, Menunggu Jadi Nostalgia?”

  1. untuk kotaku yang terlupakan

    mengapa saya menulis judul diatas dengan itu, kadang kita berpikir terlalu modern sehingga kadang kita lupa cocok enggak program ini diterapkan di daerah kita,oke kalaupun cocok langkah apa saja yang harus kita pikirkan bersama, terkadang pejabat di suatu daerah tidak mau berdiskusi dengan segala stakeholder di daerah tersebut,mereka hanya berlaku sebagai penguasa yang mana setiap keputusan yang diambil akan selalu diamini oleh rakyatnya mereka terlalu tuli untuk mendengar apa yang dimaui rakyatku?kenapa rakyatku tidakmerasa memiliki ataupupun mendukung program yang dicanangkan,ketidakpekaan pejabat setelah menjabat sudah menjadi cerita basi yang selalu dipertontonkan secara vulgar, karena kita tahu bahwa mereka akhirnya akan memikirkan kelompok dan individunya saja.

    irwan kurniawan
    putera kisaran yang berada di perantauan

Leave a Reply

bisnis online Informasi Kesehatan Lainnya : Agung Farma
120x600 ad code [Inner pages]

seputar_islam

Recently Commented